Kejadian masa lalu sering kali membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Tidak sedikit yang menjadikan masa lalu sebagai aib dan tidak sedikit pula yang terjebak dan tenggelam dalam masa lalu mereka. Berdamai dengan masa lalu merupakan kalimat klise yang sering dijadikan pembelaan dan motivasi bagi teman-teman yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan tentang masa lalu mereka.
Berdamai, berteman baik ataupun berteman dengan tidak baik dengan masa lalu bukanlah suatu permasalahan besar mengingat kemampuan memori dan logika setiap orang dalam merespon masa lalu tidak sama. Hanya saja dalam menyikapi masa lalu setiap orang haruslah menjadikan masa lalu sebagai guru. Ya, kita harus berterimakasih kepada masa lalu terlepas dari pahit atau manisnya pengamalan tersebut.
Kenapa berguru? Karena ekstensi utama dari berguru tidaklah mengutaman perihal rasa akan tetapi mengutaman rasa percaya dan hormat. Masa lalu adalah pengalaman dan bukankah pengalaman merupakan guru yang terhebat?
Jadi, teruntuk teman yang di sebelah sana, sebaiknya jangan melupakan masa lalu dengan menghapus semua memori tentangnya. Cobalah untuk mengikhlaskannya dengan menjadikan guru. Toh kalaupun kita berguru kepada seseorang tidak diwajibkan berteman dan berhubungan baik. Akan tetapi perlu diingat bahwa jangan sekali-kali menghina dan menjelek-jelekan guru dan jangan sekali-kali mengejek masa lalu. Karena itu sama saja dengan menjatuhkan dirimu sendiri.
Salam literasi, Rizki Zakwandi
Salam literasi, Rizki Zakwandi